...... Gaharu untuk mengharumkan dunia dan mensejahterakan ......

Senin, 06 Agustus 2012

Dwi Abdi, Pembudidaya Gaharu dari Lingga: Dulu Ditertawakan, Sekarang Diikuti

Dwi Abdi, Pembudidaya Gaharu dari Lingga: Dulu Ditertawakan, Sekarang Diikuti

Sejak tahun 2002 lalu, Dwi Abdi mengembangkan budi daya tanaman Gaharu, di Desa Penuba, Lingga. Awalnya, aktivitas ini ditertawai teman dan beberapa pejabat. Tapi, kini, sebaliknya. Mereka mengikuti jejaknya.

Menurut pria yang juga Kepala Desa Penuba, Lingga, ini, sekitar 10 tahun bertahan, telah banyak pengusaha ingin membeli Gaharunya. Bahkan, ada yang berani menawar Rp5 miliar untuk keseluruhan batang Gaharunya. Tapi, dia belum bersedia menjualnya. Budidaya Gaharu yang di rintis, dilalui penuh suka duka.

Bermodalkan dua hektare lahan dan mendapat arahan Prof DR Ir Ervizal AM Zuhud MS, Kepala Bagdin Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan dan Konsevasi Sumber Daya Hutan, Institut Pertanian Bogor (IPB), mulailah dia mencoba budidaya dengan berbagai rintangan.
Dalam perjalanannya, Dwi Abdi, tidak pernah putus asa.

Berbekal pengetahuan yang ada, kendala-kendala itu dapat diatasi dengan terus berkonsultasi.
Menurut Dwi, budidaya Gaharu selain untuk mempertahankan populasinya dan memanen Gaharunya dengan pola baru, tapi juga berusaha untuk mengambil manfaat dari dari pohon itu. Seperti buah, bijih, bunga, batang, akar dan daunnya yang mengandung banyak khasiat kesehatan.
Seperti kulit buahnya akan dikembangkan untuk obat herbal yang berdasarkan riset terbukti mampu mencegah stroke dan darah tinggi.

Dwi ternyata tidak bekerja sendirian dan memanfaatkan ilmu untuk kepentingan pribadi saja. Ilmunya ia berikan pula kepada kawan-kawan dan warganya yang berkeinginan mengembangkan budidaya Gaharu di Lingga.
Seperti, Ketua DPRD Kabupaten Lingga, Kamaruddin Ali, Ketua Bappeda Kabupaten Lingga M Izhak, Kapolsek Lingga Karyono, Pak Kamarul dan Pak Saparuddin di wilayah Singkep.

”Alhamdulillah, sebagian kawan-kawan sudah mulai mengikuti jejak saya. Saya berharap masyarakat Desa Penuba dapat memanfaatkan peluang usaha ini dan tidak larut dalam hiruk pikuk pertambangan saja,’’ kata Dwi saat ditemui di Tanjungpinang, Sabtu (21/4) malam.

Ke depan, ujarnya, Kabupaten Lingga dapat menjadi sentra budidaya dan penghasil Gaharu terbesar di Kepri. Karena nilai ekonomisnya sangat tinggi sekali bagi mendorong tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Bupati Lingga Daria saja menyambut baik budidaya Gaharu yang ditekuninya. Dari sisi manfaat, sejak dahulu kala Gaharu sudah digunakan kalangan elit kerajaan, maupun masyarakat, dan suku pedalaman di Sumatera dan Kalimantan.

Gaharu punya nilai budaya, dan ekonomi yang cukup tinggi.  Antara lain dalam bentuk dupa untuk acara ritual dan keagamaan, pengharum tubuh dan ruangan, bahan kosmetik dan obat-obatan herbal, parfum, aroma terapi, sabun, body lotion, bahan obat-obatan yang memiliki khasdit sebagai anti asmatik, anti mikrobdi, dan stimulan kerja syaraf dan pencernaan.
Persoalannya sekarang, masih banyak yang belum tahu komoditi Gaharu itu, karena sempat masanya redup.

”Populasi Gaharu nyaris berkurang. Penyebabnya perburuan Gaharu jauh lebih besar daripada produksinya. Para pemburu Gaharu main tebang untuk mendapatkan gumpalan padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum,” ujarnya.

Padahal, tidak semua bagian kayu atau akarnya mengandung Gaharu. Yang ada Gaharunya itu hanya bagian yang telah mengalami proses perubahan fisika dan kimia akibat terinfeksi oleh sejenis jamur.

”Kurangnya pemahaman dan harga yang sangat fantastik, mendorong pemburu Gaharu melakukan cara-cara yang instan, main asal tebang saja sampai rata dengan tanah,’’katanya.

Kata Dwi, budidaya Gaharu mulai lagi hangat diperbincangkan. ”Sebelumnya, tidak,” bebernya. Bahkan, banyak orang kurang peduli. Padahal, pangsa pasar Gaharu saat ini, untuk  kualitas super di pasaran lokal Samarinda, Tarakan, dan Nunukan, Kalimantan Timur mencapai Rp40 juta sampai Rp50 juta per kilogram. ”Itu tertinggi, masih ada kualitas lainnya,” ungkapnya.
Dijelaskan Dwi, Indonesia adalah negara pengekspor Gaharu terbesar di dunia. ”Padahal itu baru 20 persen saja yang bisa dipenuhi Indonesia,” ungkapnya.

Sentra Gaharu Terbesar

Untuk itu, rencana Pemkab Lingga mengembangkan budi daya Gaharu dalam skala besar, perlu didukung bersama, baik masyarakat, lembaga penelitdin, perguruan tinggi, dan LSM konservasi. Prospek untuk mengembalikan Gaharu menjadi komoditi andalan sebenarnya sangat terbuka dengan ditemukannya teknologi rekayasa inokulasi.
Kata Dwi, produksi Gaharu dapat direncanakan dan dipercepat melalui induksi jamur pembentuk
Gaharu pada batang dan akar pohon.

Caranya dengan memasukan jamur pada batang dan akar yang sengaja dilobang, lalu ditutup kembali dengan kayu dan lakban, kemudian dibiarkan selama satu tahun. Gubal Gaharu pun sudah bisa dipanen. Semakin lama dibiarkan, kwalitas gubal Gaharu semakin baik. Dengan demikian, tiap hektare Gaharu yang sudah berumur di atas lima tahun dan sudah diinduksi jamur, maka sudah dapat diproyeksi nilai ekonominya.

”Saya orang pertama yang sudah menerapkan teknologi rekayasa inokulasi itu di Kepri. Jamur itu  Saya peroleh berkat informasi dari pihak IPB. Dengan begitu, tidak dapat dipungkiri,’’ katanya.

Dari hasil penjualan jamur, kata Dwi, ia memperoleh keuntungan. Meskipun sedikit, tetapi ia merasa senang sekali karena teknologi itu ternyata diikuti oleh kawan-kawan.
Pesanan jamur dan permintaan untuk memasukan jamur ke batang dan akar Gaharu pun sudah mulai berdatangan.

”Sekarang, selain melakukan budi daya, menerima pesanan jamur, memasarkan bibit Gaharu dan  obat herbal kulit buah Gaharu, kedepan yang ingin Saya kembangkan lagi adalah teh Gaharu,” pungkasnya.  (Zekma) (112)

foto : Kepala Desa Penuba, Dwi Abdi berada di kebun Gaharu miliknya di Penuba, Kabupaten Lingga
Sumber : http://www.batampos.co.id/index.php/2012/04/23/dwi-abdi-pembudidaya-gaharu-dari-lingga-dulu-ditertawakan-sekarang-diikuti/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar