...... Gaharu untuk mengharumkan dunia dan mensejahterakan ......

Senin, 06 Agustus 2012

Sei Tubu Kembangkan Kopi dan Gaharu


 

Sei Tubu Kembangkan Kopi dan Gaharu 

Melalui program Gerbang Dema kecamatan, tiap kepala keluarga diberikan 150 bibit kopi dan gaharu setiap tahun sejak tahun 2006.

Camat Mentarang Marson L Langub mengatakan, kondisi geografis dan budaya warga desa di Sei Tubu dengan desa lain di wilayah Mentarang berbeda. Dengan begitu, jenis komoditas unggulan yang dikembangkan juga lain dibanding 10 desa lainnya di wilayah Mentarang.

Untuk 5 desa di Sei Tubu yang masuk perwakilan Kecamatan Mentarang, telah dikembangkan kopi dan gaharu, sementara di desa lain dikembangkan padi adan dan kakao.

Selama sepekan terakhir di bulan September lalu, Marson L Langub yang didampingi Kepala KCDP Mentarang, dan petugas kesehatan dari Puskesmas, melakukan kunjungan sekaligus monitoring realisasi program Gebang Dema khususnya di 3 desa, daerah Sei Tubu Mentarang, yakni Long Nyau, Long Ranau, dan Long Pada.

Ia mendapati tanaman kopi maupun gaharu yang dikembangkan warga di Sei Tubu sejak 2006 berkembang bagus.

Dari 5 desa di Sei Tubu, sudah dikembangkan sekitar 27 tanaman hektare kopi dan 27 hektare gaharu.

"Untuk bibit yang ditanam sejak tahun perintisan (2006) kini sudah tumbuh hingga mencapai 1 meter. Tahun 2009 nanti, khususnya kopi diharapkan sudah berbuah." ungkapnya.

Sebenarnya, pihak kecamatan bisa memberikan bibit kopi dan gaharu lebih banyak lagi. Seperti, program kakao, tiap KK mengembangkan seluas setengah hektare per tahun dari Gerbang Dema kecamatan dan desa.

Namun warga di 5 desa Sei Tubu mengaku belum sanggup sehingga hanya diberikan 300 pokok bibit gaharu dan kopi tiap KK.

"Pertama ditawari bibit, tiap KK bahkan cuma sanggup 200 pokok. Tetapi kita menambah menjadi 300 pokok per KK," katanya.

Dikembangkannya tanaman kopi dan gaharu ini, merupakan implementasi program Gerbang Dema untuk mewujudkan masyarakat mandiri. Dengan sistem ini, secara bertahap mengubah pola warga setempat yang terbiasa masuk-keluar hutan mencari gaharu.

Sumber :  http://perkebunan.kaltimprov.go.id/berita-349-.html

Bupati Nunukan: “Gading Gajah Boleh Menguning Tapi Pohon Sawit Tidak Boleh”

Bupati Nunukan: “Gading Gajah Boleh Menguning Tapi Pohon Sawit Tidak Boleh”

 Ketika dalam perjalanan ke tempat diresmikannya perumahan Komunitas Adat Terpencil (KAT), Bupati Nunukan Drs. Basri dan rombongan melewati perkebunan kelapa sawit, baik milik perusahaan maupun milik perorangan yang sangat luas.

Tentu, rasa gembira Bupati tak bisa dibendung khususnya ketika melihat kebun sawit masyarakat karena Bupati tahu kalau ke depan kebun tersebut akan berproduksi dan pastinya akan mengdongkrak income masyarakat yang bermukim di daerah itu yang selama ini hanya menggantungkan hidupnya dari hasil hutan yakni berburu, mencari Gaharu dan rotan.

Hanya saja yang disesalkan Bupati, banyak kebun masyarakat tidak terurus, rumputnya lebih tinggi daripada tanaman sawitnya yang mengakibatkan beberapa daun kelapa sawitnya kelihatan menguning.

"Gading Gajah boleh menguning tapi pohon kelapa sawit tidak boleh, pohon sawit ini seharusnya tumbuh dengan daun nan hijau agar kalau berbuah jadinya banyak," kata bupati sambil melirik ke beberapa anggota DPRD yang menyertai dirinya dalam kunjungan tersebut yang berasal dari beragam warna partai. Syafri HB

Sumber : http://suaraakarrumput.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2391&catid=3&Itemid=37

Wapres Dukung Perkebunan Gaharu di Bangka Tengah

Wapres Dukung Perkebunan Gaharu di Bangka Tengah

Upaya pengembangan tanaman gaharu di Bangka Tengah semakin diminati masyarakat. Permintaan bibit gaharu pun terus bertambah. Bahkan, masyarakat berusaha untuk menyemai bibit gaharu sendiri dari gaharu alam yang tumbuh di kebun-kebun warga.

Usaha ini juga mendapat dukungan penuh dari Wapres, Boediono dalam acara kunjungan kerja di Desa Namang, Sabtu (22/1/2011). Bahkan Wapres, secara simbolis melakukan penanaman tanaman gaharu di halaman TK/TPA Al Quran Namang.

Wapres Boediono, di dalam acara dialog bersama warga di Desa Namang, mengatakan, pemerintah dan masyarakat harus mulai berpikir untuk mencari usaha perekonomian baru selain timah. Karena menurut Boediono, timah suatu saat akan habis.

Menurut Boediono, usaha perkebunan merupakan suatu alternatif yang tepat pasca timah termasuk tanaman gaharu dan madu pelawan. "Usaha perkebunan berupa penanaman pohon madu pelawan serta gaharu akan membantu melestarikan lingkungan. Dan ini merupakan sumber perekonomian yang berkelanjutan yang perlu dikembangkan pasca timah," ungkapnya. (*)

Sumber : http://www.tribunnews.com/2011/01/23/wapres-dukung-perkebunan-gaharu-di-bangka-tengah

Pembangunan Kebun Percontohan GAHARU Sistem Agroforestry di Kecamatan Muara Bengkal Kaltim

proposal gaharu

Proposal Proyek
Pembangunan Kebun Percontohan Sistem Agroforestry di Kecamatan Muara Bengkal

A. Latar Belakang

Tumbuhan penghasil gaharu di Kalimantan Timur didominasi jenis Aquilaria malaccensis, selain itu terdapat pula jenis A. beccariana dan A. microcarpa. Tumbuhan penghasil gaharu yang terdapat di Kaltim diperkirakan lebih dari tiga jenis yang ditemui di daerah Samboja, Muara Wahau, Kota Bangun, Muara Kaman, Tanah Grogot, Sangkulirang dan Malinau serta daerah lain berdasarkan informasi dari pemungut gaharu di hutan alam.

Di Muara Bengkal sendiri pernah dijumpai pohon penghasil gaharu di ladang milik petani, pada ketinggian tanah 500-1000 m dpl, sedangkan untuk jenis A. malacensis dapat tumbuh pada ketinggian 0-1000 m dpl. Pengamatan sebaran Aquilaria spp. yang dilaksanakan oleh Soehartono dan Newton (2000), dari 100 plot yang ada di Kalimantan, 95 plot ditemukan di Kaltim. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa Aquilaria spp. tumbuh tersebar merata di Kaltim dan tidak menutup kemungkinan dapat pula dikembangkan di Muara Bengkal.

Dari hasil penelitian jenis jamur yang berperan dalam proses pembentukan gubal gaharu di Kaltim adalah Fusarium oxysporum dan Acremonium sp. Peneliti di Balai Besar Dipterokarpa (BBD) di Samarinda telah berhasil menularkan jamur Fusarium sp. pada pohon gaharu umur 9 tahun dan pada tahun ke-11 gubal gaharu bisa dipanen. Di Riau pohon gaharu umur 5 tahun sudah bisa diinokulasi dengan catatan batang gaharu sudah berdiameter sekitar 10 cm, yang mana batang pohon dibor terlebih dahulu, lalu ditulari jamur penyebab terbentuknya gubal gaharu.

Dalam prosiding temu usaha gaharu di Samarinda yang disampaikan Direktorat Bina Usaha Perhutanan Rakyat dimuat, bahwa negara yang menjadi tujuan ekspor gaharu Indonesia dalam jumlah besar adalah Eropa, Arab dan Cina. Manfaat gaharu dalam dunia perdagangan antara lain :
1. Sebagai bahan industri obat-obatan, digunakan untuk obat sakit kuning, penenang, sakit ginjal, kanker, obat gosok dan sebagai antibodi
2. Sebagai bahan parfum, digunakan untuk komponen minyak wangi, pengharum ruangan dan setanggi (dupa)
3. Sebagai bahan kosmetik, digunakan untuk rias kulit dan wajah, serta cairan penutup muka (astringent)
4. Kulit batang tumbuhan penghasil gaharu juga dapat digunakan sebagai bahan anyaman seperti tas, topi, keranjang dan tali

Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah dan program Gerdabangagri di Kutai Timur turut mengalami perubahan cara pandang, kini masyarakat dipandang sebagai salah satu aktor utama (stakeholder) yang memiliki peran dan fungsi strategis dalam pembangunan. Pelaksanaan pembangunan maupun Gerdabangagri yang berbasis agribisnis dilaksanakan tidak hanya pada daerah-daerah yang mudah terjangkau secara transportasi, tetapi juga dilaksanakan pada daerah yang terisolasi.

Sudah lama diyakini bahwa hutan itu adalah penghasil kayu saja, kayu menyita porsi paling besar masyarakat ketika berbicara tentang hutan. Sekarang ini maraknya penebangan liar (illegal logging) dan masalah-masalah yang diakibatkan, maka perlu dipikirkan dan mengubah paradigma bahwa bisnis kehutanan dengan hasil hutan non kayu dapat memberi hasil real benefit hingga perlu dipahami masyarakat umum. Apalagi dengan penerapan system agroforestry masyarakat tidak hanya menyandarkan produk hasil hutan non kayu saja, ada tanaman perkebunan maupun tanaman pertanian yang bermanfaat dan memberikan tambahan pendapatan. 

Pengembangan gaharu dapat dilakukan melalui berbagai pola pengembangan dengan mengoptimalkan ruang tumbuh hutan dan lahan. Selanjutnya pengembangan budidaya gaharu agar berhasil secara berkelanjutan harus disertai dengan upaya pemberdayaan kelompok tani dengan pengembangan SDM, pemberdayaan permodalan yang sifatnya mendidik, pengembangan kelembagaan dan kemitraan.
B. Tujuan
Maksud pengembangan budidaya gaharu dengan system agroforestry adalah untuk meningkatkan produktivitas lahan dan melestarikan jenis tanaman penghasil gaharu. Selain itu juga untuk menumbuhkembangkan kemampuan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat petani secara berkelanjutan.
C. Startegi Pengembangan Gaharu Dengan Sistem Agroforestry
Untuk tercapainya tujuan pengembangan budidaya gaharu oleh masyarakat petani perlu suatu strategi, yaitu:
  1. Mengembangkan dan Meningkatkan Produktivitas Lahan Masyarakat Petani
Selain sebagai investasi masa depan, tanaman gaharu juga dapat memulihkan dan memperbaiki penutupan lahan. Gaharu pada umur 5-6 tahun tanaman sudah dapat ditulari jamur yang berperan dalam proses pembentukan gubal gaharu sehingga pada umur 7-8 tahun sudah bisa dipanen secara berkala pada tahun-tahun berikutnya. Untuk menunggu panen gaharu, petani dapat menanam tanaman pertanian di sela tanaman gaharu atau tanaman buah.
  1. Pengembangan Kualitas Sumberdaya Masyarakat Petani
Melaksanakan pembinaan dan pendampingan kepada kelompok tani dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkan motivasi untuk maju, sehingga lebih tanggap terhadap perubahan yang terjadi. Melaksanakan pembinaan seutuhnya, sehingga terwujud manusia berkualitas yang nantinya ke depan diharapkan mampu melakukan pengelolaan mandiri melalui lembaga seperti koperasi.
  1. Pemberdayaan Kelompok Tani
Pemberdayaan kelompok tani merupakan program pendidikan yang ditujukan kepada petani yang dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan, dengan menerapkan prinsip menolong diri sendiri (self-help) yang berlandaskan pada peningkatan kemampuan menghasilkan pendapatan, sehingga mereka mampu menjangkau sumberdaya, permodalan, teknologi dan pasar.
  1. Pemberdayaan Dalam Permodalan
Diharapkan kepada Pemerintah Daerah ataupun Lembaga yang menjembatani Pemerintah dapat memfasilitasi permodalan awal sebagai simulator dalam pengembangan budidaya gaharu dengan system agroforestry, selain itu juga ke depan Pemerintah diharapkan membantu membuat peraturan yang mengatur kedaerahan antara lain menyangkut penetapan lokasi pengembangan.
  1. Menyelenggarakan Pelatihan/Penyuluhan/Pendampingan
Untuk mempercepat berkembangnya usaha budidaya gaharu dengan system agroforestry, maka diperlukan masyarakat petani yang menguasi teknologi budidaya pengelolaan tanaman gaharu dan pengelolaan pasca panen. Penyuluhan nantinya bisa bekerja sama dengan instansi terkait seperti Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Sengata dan mengundang ahli gaharu dari Balai Besar Dipterokarpa di Samarinda ataupun dari Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Untuk pelatihan dapat dilaksanakan oleh beberapa petani yang terpilih mewakili dengan pendamping dan narasumber yang berpengalaman melakukan penelitian/penanaman gaharu.

Sumber : http://edwinmalacenis.blogspot.com/2009/03/proposal-gaharu.html

Kegigihan Haji Arfan Dalam Melestarikan Gaharu di NTB

Kegigihan Haji Arfan Dalam Melestarikan Gaharu

PEPATAH tua “sudah gaharu, cendana pula” bisa dipastikan menunjukkan betapa dikenalnya kedua jenis tanaman tersebut. Namun, selama ini yang dikenal dengan baik sebagai tanaman yang bernilai tinggi hanyalah kayu cendana. Sedang tanaman gaharu tidak banyak yang tahu kegunaannya, apalagi jika tanaman itu tumbuh sehat tanpa cacat, yang berarti nyaris tak punya nilai ekonomi.Hingga seperempat abad lalu, gaharu (Aquilaria spp) yang banyak dijumpai di hutan Indonesia itu, tumbuh nyaris tanpa gangguan.

Dalam proses pertumbuhannya, alam membuatnya tidak tumbuh normal, dalam arti, gangguan alam menyebabkan gaharu terinfeksi penyakit yang kemudian diketahui menghasilkan gubal gaharu. Gubal gaharu yang mengandung damar wangi (Aromatic resin) untuk bahan baku beraneka jenis wewangian inilah yang kemudian mendorong perburuan gaharu.



Sejak tahun 1970-an, perburuan gaharu mulai dilakukan besar-besaran karena nilai ekspor gubal yang tinggi. Lalu, dalam waktu 10-15 tahun setelah itu, tanaman gaharu di Indonesia mulai terancam punah, terutama karena belum dikenalnya teknologi budidaya gaharu dan teknologi memproduksi gubal. Apalagi meluasnya perburuan kayu gaharu dilakukan dengan penebangan yang sia-sia. Artinya, banyak pohon gaharu yang tidak mengandung gubal ditebang dan mati.

Melihat kenyataan itu, Haji Arfan (63) di Dusun Lembah Sari, Desa Pusuk, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat (Nusa Tenggara Barat/NTB), terdorong membudidayakan pohon gaharu. Terutama melihat kenyataan hutan Pusuk yang diketahui baik untuk vegetasi gaharu, nyaris tidak lagi ditemui gaharu. Dengan mengumpulkan anakan dan biji gaharu dari sisa-sisa pohon gaharu yang masih tumbuh di hutan Pusuk, ia kemudian gigih membudidayakan tanaman itu. Setidaknya, sejak tahun 1992 muncul harapan tanaman gaharu bisa dilestarikan. Apalagi, usaha itu didukung serangkaian penelitian Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram), Dinas Kehutanan NTB, bahkan Departemen Kehutanan.

Paling tidak, tanaman gaharu tumbuh subur di hutan Pusuk pada areal sekitar 60 hektar yang ditanam bekerja sama dengan Dinas Kehutanan dan 20 hektar yang ia tanam sendiri. Belum lagi dari jutaan bibit yang ia hasilkan, bukan saja tumbuh di hutan dan kebun, tapi juga di pekarangan penduduk terutama di Pulau Lombok.

USAHA membudidayakan gaharu tidak lepas dari ketekunannya bekerja mencari nafkah untuk kehidupannya bersama istri dan 12 anaknya. Ketekunan berusaha itu terlihat sejak Arfan menjadi pengusaha kayu bakar tahun 1963-1975. Setiap hari ia membeli sekitar 100 meter kubik (m3) kayu bakar dari penduduk dan dijual tiga kali seminggu ke Mataram, ibu kota NTB yang jaraknya sekitar 20 km dari Pusuk.

Ketika itu ia mengetahui di kawasan hutan Pusuk semakin sulit dijumpai tanaman gaharu. Kalaupun ada tanaman di kebun masyarakat, tidak terawat dengan baik. Karena itu, ia merelakan sebagian waktunya untuk mencegah kepunahan kayu tersebut dengan melakukan budidaya pembibitan dan penanaman pohon gaharu.

Bagi Arfan, kegiatan membudidayakan tanaman hutan bukan hal asing. Sejak tahun 1978, ketika ia diangkat menjadi tenaga honorer sebagai mandor hutan pada Dinas Kehutanan Lombok Barat, ia biasa membibitkan tanaman penghijauan/reboisasi seperti mahoni, sonokeling, sengon, dan tanaman buah. Bibit tanaman itu dijual kepada Dinas Kehutanan dan masyarakat yang membutuhkan, untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya.

Di sela-sela tugasnya itu, sejak tahun 1992 Arfan mengumpulkan anakan dan biji gaharu dari hutan Pusuk dan membibitkan serta menanamnya pada kebun di pekarangan rumahnya. Namun diakui, kegiatan ini tidak mudah karena kegagalan tidak jarang dialami akibat kurangnya pengetahuan tentang gaharu. Namun, ia terus mencoba hingga diketahui cara dan kondisi lingkungan yang baik untuk lokasi pembibitan gaharu.

Pada awalnya bibit gaharu dijual dengan harga Rp 100 per pohon. Baru belakangan ia memperoleh harga Rp 2.500.

“Tapi, bibitnya sudah mulai sulit dicari dan sekarang paling banyak sekitar 25.000 bibit/anakan setahun,” jelas Arfan.

 Dalam menjalankan kegiatannya, usahanya Arfan tidak selalu berjalan mulus. Misalnya, tanaman gaharu yang ia kembangkan pernah habis dijarah. Namun, hal itu tidak menyurutkan keinginannya mengembangkan budidaya gaharu. Bahkan, berbekal honor sebagai mandor hutan dan sebagai buruh pada kegiatan reboisasi serta hasil penjualan tanaman bibit penghijauan ia meneruskan usahanya.
***

MESKI kegiatan yang dilakukan selama ini membuat Arfan meraih Penghargaan Kalpataru 2002, namun ia berterus terang sukses yang diraih itu tidak lepas dari kerja sama dengan berbagai pihak. Bahkan, lewat kerja sama dengan Dinas Kehutanan Lombok Barat tahun 1995, ia terlibat dalam proyek percontohan budidaya gaharu di hutan Pusuk pada areal 60 hektar.

Bantuan uang pemeliharaan Rp 5 juta per tahun dari Dinas Kehutanan, bisa ia sisihkan sebagian untuk mengembangkan sendiri budidaya tanaman gaharu. Pada areal 20 hektar juga di hutan Pusuk, tanamannya kini berusia 6-7 tahun.

Kebun gaharu ini kemudian lewat kerja sama dengan Universitas Mataram dijadikan lokasi penelitian tanaman gaharu Fakultas Pertanian dan Laboratorium Bioteknologi Unram. Di kebun inilah Unram meneliti proses terjadinya gubal gaharu yang menghasilkan teknologi gubal gaharu.

Hasil penelitian itu yang kemudian mempercepat proses berkembangnya minat masyarakat menanam gaharu. Karena dengan ditemukannya sejenis jamur yang bisa menyebabkan pohon gaharu terinfeksi penyakit lalu menghasilkan gubal. Dalam hal ini, Arfan bersama sekitar 10 orang rekannya di Desa Pusuk, menyediakan bibit yang disebarluaskan ke berbagai daerah di NTB, bahkan ke luar NTB.

Sementara Dr Ir Parman, Kepala Laboratorium Bioteknologi Unram, menyediakan sejenis jamur yang disuntikkan ke batang pohon agar menghasilkan gubal. Oleh sebab itu, kalangan pengusaha, aparat kehutanan dan pemerintah daerah serta masyarakat mendukung upaya budidaya yang dikaitkan dengan pengembangan hutan kemasyarakatan. Bahkan, dengan tersedianya tenaga ahli dan temuan rekayasa untuk memproduksi gubal oleh Dr Ir Parman, Pulau Lombok diharapkan menjadi salah satu pusat pengembangan tanaman gaharu.

Harapan Arfan, tentu saja masyarakat berkenan mengikuti jejaknya. Karena bukan saja tanaman gaharu bisa dilestarikan, tapi juga memberi penghasilan yang tidak bisa dibilang kecil. Dengan harga bibit Rp 2.500 per pohon, lalu menyediakan dana untuk menyuntikkan jamur dengan biaya sekitar Rp 50.000 untuk setiap pohon. Jika suntikan berhasil dan terbentuk gubal, keuntungan pemilik pohon bisa dibayangkan jauh sebelumnya. Setidaknya, satu kilogram gubal kualitas utama harganya sekitar Rp 2 juta-Rp 3 juta. Namun, iming-iming ini belakangan tidak mendorong seluruh lapisan masyarakat ikut mengembangkan gaharu. Yang justru memprihatinkan Arfan ialah ulah segelintir orang yang justru bisa membuat warga enggan membudidayakan gaharu.

Ini terutama karena masih banyak orang yang lebih memilih jalan pintas agar lebih cepat memperoleh keuntungan tanpa kerja keras. Mereka itulah yang kemudian menjarah tanaman gaharu di hutan, kebun dan pekarangan.

“Bayangkan saja, tanaman gaharu setinggi satu meter dicuri dan belum tentu bisa hidup lagi,” jelasnya kecewa.

Paling tidak, kejadian itu membuat Arfan merasa gagal mendorong masyarakat meningkatkan taraf hidup dengan kerja keras dan ketekunan. Keteladanannya akan semakin tidak dirasakan jika sikap masyarakat seperti itu tidak segera dihentikan. Apalagi jika kemudian menjadi pendorong punahnya kembali tanaman gaharu. [vb-01/kompas/foto:istimewa]

Sumber : http://www.vivaborneo.com/kegigihan-haji-arfan-dalam-melestarikan-gaharu.htm

Dwi Abdi, Pembudidaya Gaharu dari Lingga: Dulu Ditertawakan, Sekarang Diikuti

Dwi Abdi, Pembudidaya Gaharu dari Lingga: Dulu Ditertawakan, Sekarang Diikuti

Sejak tahun 2002 lalu, Dwi Abdi mengembangkan budi daya tanaman Gaharu, di Desa Penuba, Lingga. Awalnya, aktivitas ini ditertawai teman dan beberapa pejabat. Tapi, kini, sebaliknya. Mereka mengikuti jejaknya.

Menurut pria yang juga Kepala Desa Penuba, Lingga, ini, sekitar 10 tahun bertahan, telah banyak pengusaha ingin membeli Gaharunya. Bahkan, ada yang berani menawar Rp5 miliar untuk keseluruhan batang Gaharunya. Tapi, dia belum bersedia menjualnya. Budidaya Gaharu yang di rintis, dilalui penuh suka duka.

Bermodalkan dua hektare lahan dan mendapat arahan Prof DR Ir Ervizal AM Zuhud MS, Kepala Bagdin Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan dan Konsevasi Sumber Daya Hutan, Institut Pertanian Bogor (IPB), mulailah dia mencoba budidaya dengan berbagai rintangan.
Dalam perjalanannya, Dwi Abdi, tidak pernah putus asa.

Berbekal pengetahuan yang ada, kendala-kendala itu dapat diatasi dengan terus berkonsultasi.
Menurut Dwi, budidaya Gaharu selain untuk mempertahankan populasinya dan memanen Gaharunya dengan pola baru, tapi juga berusaha untuk mengambil manfaat dari dari pohon itu. Seperti buah, bijih, bunga, batang, akar dan daunnya yang mengandung banyak khasiat kesehatan.
Seperti kulit buahnya akan dikembangkan untuk obat herbal yang berdasarkan riset terbukti mampu mencegah stroke dan darah tinggi.

Dwi ternyata tidak bekerja sendirian dan memanfaatkan ilmu untuk kepentingan pribadi saja. Ilmunya ia berikan pula kepada kawan-kawan dan warganya yang berkeinginan mengembangkan budidaya Gaharu di Lingga.
Seperti, Ketua DPRD Kabupaten Lingga, Kamaruddin Ali, Ketua Bappeda Kabupaten Lingga M Izhak, Kapolsek Lingga Karyono, Pak Kamarul dan Pak Saparuddin di wilayah Singkep.

”Alhamdulillah, sebagian kawan-kawan sudah mulai mengikuti jejak saya. Saya berharap masyarakat Desa Penuba dapat memanfaatkan peluang usaha ini dan tidak larut dalam hiruk pikuk pertambangan saja,’’ kata Dwi saat ditemui di Tanjungpinang, Sabtu (21/4) malam.

Ke depan, ujarnya, Kabupaten Lingga dapat menjadi sentra budidaya dan penghasil Gaharu terbesar di Kepri. Karena nilai ekonomisnya sangat tinggi sekali bagi mendorong tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Bupati Lingga Daria saja menyambut baik budidaya Gaharu yang ditekuninya. Dari sisi manfaat, sejak dahulu kala Gaharu sudah digunakan kalangan elit kerajaan, maupun masyarakat, dan suku pedalaman di Sumatera dan Kalimantan.

Gaharu punya nilai budaya, dan ekonomi yang cukup tinggi.  Antara lain dalam bentuk dupa untuk acara ritual dan keagamaan, pengharum tubuh dan ruangan, bahan kosmetik dan obat-obatan herbal, parfum, aroma terapi, sabun, body lotion, bahan obat-obatan yang memiliki khasdit sebagai anti asmatik, anti mikrobdi, dan stimulan kerja syaraf dan pencernaan.
Persoalannya sekarang, masih banyak yang belum tahu komoditi Gaharu itu, karena sempat masanya redup.

”Populasi Gaharu nyaris berkurang. Penyebabnya perburuan Gaharu jauh lebih besar daripada produksinya. Para pemburu Gaharu main tebang untuk mendapatkan gumpalan padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum,” ujarnya.

Padahal, tidak semua bagian kayu atau akarnya mengandung Gaharu. Yang ada Gaharunya itu hanya bagian yang telah mengalami proses perubahan fisika dan kimia akibat terinfeksi oleh sejenis jamur.

”Kurangnya pemahaman dan harga yang sangat fantastik, mendorong pemburu Gaharu melakukan cara-cara yang instan, main asal tebang saja sampai rata dengan tanah,’’katanya.

Kata Dwi, budidaya Gaharu mulai lagi hangat diperbincangkan. ”Sebelumnya, tidak,” bebernya. Bahkan, banyak orang kurang peduli. Padahal, pangsa pasar Gaharu saat ini, untuk  kualitas super di pasaran lokal Samarinda, Tarakan, dan Nunukan, Kalimantan Timur mencapai Rp40 juta sampai Rp50 juta per kilogram. ”Itu tertinggi, masih ada kualitas lainnya,” ungkapnya.
Dijelaskan Dwi, Indonesia adalah negara pengekspor Gaharu terbesar di dunia. ”Padahal itu baru 20 persen saja yang bisa dipenuhi Indonesia,” ungkapnya.

Sentra Gaharu Terbesar

Untuk itu, rencana Pemkab Lingga mengembangkan budi daya Gaharu dalam skala besar, perlu didukung bersama, baik masyarakat, lembaga penelitdin, perguruan tinggi, dan LSM konservasi. Prospek untuk mengembalikan Gaharu menjadi komoditi andalan sebenarnya sangat terbuka dengan ditemukannya teknologi rekayasa inokulasi.
Kata Dwi, produksi Gaharu dapat direncanakan dan dipercepat melalui induksi jamur pembentuk
Gaharu pada batang dan akar pohon.

Caranya dengan memasukan jamur pada batang dan akar yang sengaja dilobang, lalu ditutup kembali dengan kayu dan lakban, kemudian dibiarkan selama satu tahun. Gubal Gaharu pun sudah bisa dipanen. Semakin lama dibiarkan, kwalitas gubal Gaharu semakin baik. Dengan demikian, tiap hektare Gaharu yang sudah berumur di atas lima tahun dan sudah diinduksi jamur, maka sudah dapat diproyeksi nilai ekonominya.

”Saya orang pertama yang sudah menerapkan teknologi rekayasa inokulasi itu di Kepri. Jamur itu  Saya peroleh berkat informasi dari pihak IPB. Dengan begitu, tidak dapat dipungkiri,’’ katanya.

Dari hasil penjualan jamur, kata Dwi, ia memperoleh keuntungan. Meskipun sedikit, tetapi ia merasa senang sekali karena teknologi itu ternyata diikuti oleh kawan-kawan.
Pesanan jamur dan permintaan untuk memasukan jamur ke batang dan akar Gaharu pun sudah mulai berdatangan.

”Sekarang, selain melakukan budi daya, menerima pesanan jamur, memasarkan bibit Gaharu dan  obat herbal kulit buah Gaharu, kedepan yang ingin Saya kembangkan lagi adalah teh Gaharu,” pungkasnya.  (Zekma) (112)

foto : Kepala Desa Penuba, Dwi Abdi berada di kebun Gaharu miliknya di Penuba, Kabupaten Lingga
Sumber : http://www.batampos.co.id/index.php/2012/04/23/dwi-abdi-pembudidaya-gaharu-dari-lingga-dulu-ditertawakan-sekarang-diikuti/

Dishut Kaltim Siapkan Bibit Gaharu

Dishut Kaltim Siapkan Bibit Gaharu
[Senin,06 Agustus 2012]

Potensial Dikembangkan di Sejumlah Kabupaten

Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak menginstruksikan sejumlah kabupaten yang memiliki lahan potensial untuk mengembangkan budidaya pohon gaharu (Aquilaria malaccensis). Mendukung rencana tersebut, Dinas Kehutanan Kaltim siap menyediakan bibit persemaian pohon gaharu.

"Kami berencana mengadakan pembibitan gaharu. Sudah dilakukan penyemaian bibit di salah satu UPTD kami. Hal itu sesuai instruksi gubernur saat melakukan kunjungan kerja di Nunukan beberapa waktu lalu. Kita akan coba kembangkan budidaya pohon gaharu di sejumlah kabupaten yang lahannya potensial," ujar Kepala Dinas Kehutanan Kaltim, Khairil Anwar, Senin (6/8).

Khairil menjelaskan, gaharu merupakan salah satu dari hasil hutan yang dapat dibudidayakan di lahan-lahan yang memang potensial. Gaharu juga dapat menjadi komoditas unggulan yang bila dikembangkan dengan baik, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

Gaharu adalah kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin (digunakan dalam indsutri parfum karena berbau harum), sehingga gaharu dikenal memiliki nilai ekonomi yang sangat baik karena banyak diperdagangkan dengan harga jual yang sangat tinggi.

"Harga getah gaharu di pasaran antara Rp5-20 juta/kilogram. Setiap pohon bisa menghasilkan tiga hingga lima kilogram getah gaharu. Apalagi pohon gaharu memiliki sifat tumbuh yang tidak berbeda dengan tanaman hutan lainnya, sehingga mudah dibudidayakan dan dapat ditanam di pekarangan rumah," jelasnya.

Saat ini Nunukan sudah mengembangkan budidaya gaharu yang dipelopori oleh Bupati Nunukan M Basri diatas lahan seluas kurang lebih dua hektare. Saat kunjungan kerja gubernur ke wilayah utara Kaltim pada Juli lalu, gubernur menyempatkan diri melihat perkebunan budidaya gaharu tersebut.
Pada kesempatan itu gubernur langsung meminta kepada Dinas Kehutanan Kaltim untuk mengadakan bibit gaharu untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat melalui kelompok tani. Gaharu sangat potensial dikembangkan di Kaltim, karena gaharu dapat tumbuh dengan baik di kawasan hutan hujan
tropis.

"Masyarakat harus dapat mencontoh, karena dengan mengembangkan budidaya gaharu ini masyarakat diuntungkan dengan nilai ekonomi gaharu yang tinggi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya," ujar Awang memberi motivasi. (her/hmsprov).

Foto : Kalimantan Timur potensial untuk budidaya perkebunan gaharu.(dok/humasprov kaltim)

 Sumber :http://www.kaltimprov.go.id/kaltim.php?page=detailberita&id=9445