Kegigihan Haji Arfan Dalam Melestarikan Gaharu
PEPATAH tua “sudah gaharu, cendana pula” bisa dipastikan
menunjukkan betapa dikenalnya kedua jenis tanaman tersebut. Namun,
selama ini yang dikenal dengan baik sebagai tanaman yang bernilai tinggi
hanyalah kayu cendana. Sedang tanaman gaharu tidak banyak yang tahu
kegunaannya, apalagi jika tanaman itu tumbuh sehat tanpa cacat, yang
berarti nyaris tak punya nilai ekonomi.
Hingga
seperempat abad lalu, gaharu (Aquilaria spp) yang banyak dijumpai di
hutan Indonesia itu, tumbuh nyaris tanpa gangguan.
Dalam proses
pertumbuhannya, alam membuatnya tidak tumbuh normal, dalam arti,
gangguan alam menyebabkan gaharu terinfeksi penyakit yang kemudian
diketahui menghasilkan gubal gaharu. Gubal gaharu yang mengandung damar
wangi (Aromatic resin) untuk bahan baku beraneka jenis wewangian inilah
yang kemudian mendorong perburuan gaharu.
Sejak tahun 1970-an, perburuan gaharu mulai dilakukan besar-besaran
karena nilai ekspor gubal yang tinggi. Lalu, dalam waktu 10-15 tahun
setelah itu, tanaman gaharu di Indonesia mulai terancam punah, terutama
karena belum dikenalnya teknologi budidaya gaharu dan teknologi
memproduksi gubal. Apalagi meluasnya perburuan kayu gaharu dilakukan
dengan penebangan yang sia-sia. Artinya, banyak pohon gaharu yang tidak
mengandung gubal ditebang dan mati.
Melihat kenyataan itu, Haji Arfan (63) di Dusun Lembah Sari, Desa Pusuk,
Kecamatan Batulayar, Lombok Barat (Nusa Tenggara Barat/NTB), terdorong
membudidayakan pohon gaharu. Terutama melihat kenyataan hutan Pusuk yang
diketahui baik untuk vegetasi gaharu, nyaris tidak lagi ditemui gaharu.
Dengan mengumpulkan anakan dan biji gaharu dari sisa-sisa pohon gaharu
yang masih tumbuh di hutan Pusuk, ia kemudian gigih membudidayakan
tanaman itu. Setidaknya, sejak tahun 1992 muncul harapan tanaman gaharu
bisa dilestarikan. Apalagi, usaha itu didukung serangkaian penelitian
Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram
(Unram), Dinas Kehutanan NTB, bahkan Departemen Kehutanan.
Paling tidak, tanaman gaharu tumbuh subur di hutan Pusuk pada areal
sekitar 60 hektar yang ditanam bekerja sama dengan Dinas Kehutanan dan
20 hektar yang ia tanam sendiri. Belum lagi dari jutaan bibit yang ia
hasilkan, bukan saja tumbuh di hutan dan kebun, tapi juga di pekarangan
penduduk terutama di Pulau Lombok.
USAHA membudidayakan gaharu tidak lepas dari ketekunannya bekerja
mencari nafkah untuk kehidupannya bersama istri dan 12 anaknya.
Ketekunan berusaha itu terlihat sejak Arfan menjadi pengusaha kayu bakar
tahun 1963-1975. Setiap hari ia membeli sekitar 100 meter kubik (m3)
kayu bakar dari penduduk dan dijual tiga kali seminggu ke Mataram, ibu
kota NTB yang jaraknya sekitar 20 km dari Pusuk.
Ketika itu ia mengetahui di kawasan hutan Pusuk semakin sulit dijumpai
tanaman gaharu. Kalaupun ada tanaman di kebun masyarakat, tidak terawat
dengan baik. Karena itu, ia merelakan sebagian waktunya untuk mencegah
kepunahan kayu tersebut dengan melakukan budidaya pembibitan dan
penanaman pohon gaharu.
Bagi Arfan, kegiatan membudidayakan tanaman hutan bukan hal asing. Sejak
tahun 1978, ketika ia diangkat menjadi tenaga honorer sebagai mandor
hutan pada Dinas Kehutanan Lombok Barat, ia biasa membibitkan tanaman
penghijauan/reboisasi seperti mahoni, sonokeling, sengon, dan tanaman
buah. Bibit tanaman itu dijual kepada Dinas Kehutanan dan masyarakat
yang membutuhkan, untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya.
Di sela-sela tugasnya itu, sejak tahun 1992 Arfan mengumpulkan anakan
dan biji gaharu dari hutan Pusuk dan membibitkan serta menanamnya pada
kebun di pekarangan rumahnya. Namun diakui, kegiatan ini tidak mudah
karena kegagalan tidak jarang dialami akibat kurangnya pengetahuan
tentang gaharu. Namun, ia terus mencoba hingga diketahui cara dan
kondisi lingkungan yang baik untuk lokasi pembibitan gaharu.
Pada awalnya bibit gaharu dijual dengan harga Rp 100 per pohon. Baru
belakangan ia memperoleh harga Rp 2.500.
“Tapi, bibitnya sudah mulai
sulit dicari dan sekarang paling banyak sekitar 25.000 bibit/anakan
setahun,” jelas Arfan.
Dalam menjalankan kegiatannya, usahanya Arfan tidak selalu berjalan
mulus. Misalnya, tanaman gaharu yang ia kembangkan pernah habis dijarah.
Namun, hal itu tidak menyurutkan keinginannya mengembangkan budidaya
gaharu. Bahkan, berbekal honor sebagai mandor hutan dan sebagai buruh
pada kegiatan reboisasi serta hasil penjualan tanaman bibit penghijauan
ia meneruskan usahanya.
***

MESKI
kegiatan yang dilakukan selama ini membuat Arfan meraih Penghargaan
Kalpataru 2002, namun ia berterus terang sukses yang diraih itu tidak
lepas dari kerja sama dengan berbagai pihak. Bahkan, lewat kerja sama
dengan Dinas Kehutanan Lombok Barat tahun 1995, ia terlibat dalam proyek
percontohan budidaya gaharu di hutan Pusuk pada areal 60 hektar.
Bantuan uang pemeliharaan Rp 5 juta per tahun dari Dinas Kehutanan, bisa
ia sisihkan sebagian untuk mengembangkan sendiri budidaya tanaman
gaharu. Pada areal 20 hektar juga di hutan Pusuk, tanamannya kini
berusia 6-7 tahun.
Kebun gaharu ini kemudian lewat kerja sama dengan
Universitas Mataram dijadikan lokasi penelitian tanaman gaharu Fakultas
Pertanian dan Laboratorium Bioteknologi Unram. Di kebun inilah Unram
meneliti proses terjadinya gubal gaharu yang menghasilkan teknologi
gubal gaharu.
Hasil penelitian itu yang kemudian mempercepat proses berkembangnya
minat masyarakat menanam gaharu. Karena dengan ditemukannya sejenis
jamur yang bisa menyebabkan pohon gaharu terinfeksi penyakit lalu
menghasilkan gubal. Dalam hal ini, Arfan bersama sekitar 10 orang
rekannya di Desa Pusuk, menyediakan bibit yang disebarluaskan ke
berbagai daerah di NTB, bahkan ke luar NTB.
Sementara Dr Ir Parman,
Kepala Laboratorium Bioteknologi Unram, menyediakan sejenis jamur yang
disuntikkan ke batang pohon agar menghasilkan gubal. Oleh sebab itu,
kalangan pengusaha, aparat kehutanan dan pemerintah daerah serta
masyarakat mendukung upaya budidaya yang dikaitkan dengan pengembangan
hutan kemasyarakatan. Bahkan, dengan tersedianya tenaga ahli dan temuan
rekayasa untuk memproduksi gubal oleh Dr Ir Parman, Pulau Lombok
diharapkan menjadi salah satu pusat pengembangan tanaman gaharu.
Harapan Arfan, tentu saja masyarakat berkenan mengikuti jejaknya. Karena
bukan saja tanaman gaharu bisa dilestarikan, tapi juga memberi
penghasilan yang tidak bisa dibilang kecil. Dengan harga bibit Rp 2.500
per pohon, lalu menyediakan dana untuk menyuntikkan jamur dengan biaya
sekitar Rp 50.000 untuk setiap pohon. Jika suntikan berhasil dan
terbentuk gubal, keuntungan pemilik pohon bisa dibayangkan jauh
sebelumnya. Setidaknya, satu kilogram gubal kualitas utama harganya
sekitar Rp 2 juta-Rp 3 juta. Namun, iming-iming ini belakangan tidak
mendorong seluruh lapisan masyarakat ikut mengembangkan gaharu. Yang
justru memprihatinkan Arfan ialah ulah segelintir orang yang justru bisa
membuat warga enggan membudidayakan gaharu.
Ini terutama karena masih banyak orang yang lebih memilih jalan pintas
agar lebih cepat memperoleh keuntungan tanpa kerja keras. Mereka itulah
yang kemudian menjarah tanaman gaharu di hutan, kebun dan pekarangan.
“Bayangkan saja, tanaman gaharu setinggi satu meter dicuri dan belum
tentu bisa hidup lagi,” jelasnya kecewa.
Paling tidak, kejadian itu membuat Arfan merasa gagal mendorong
masyarakat meningkatkan taraf hidup dengan kerja keras dan ketekunan.
Keteladanannya akan semakin tidak dirasakan jika sikap masyarakat
seperti itu tidak segera dihentikan. Apalagi jika kemudian menjadi
pendorong punahnya kembali tanaman gaharu.
[vb-01/kompas/foto:istimewa]
Sumber : http://www.vivaborneo.com/kegigihan-haji-arfan-dalam-melestarikan-gaharu.htm